MENOLAK LUPA SEJARAH KELAM: Menjaga Ideologi Kebangsaan di Bumi Lancang Kuning

- Penulis

Selasa, 29 September 2026 - 01:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Brigjen TNI (Purn) Edy Natar Nasution
Gubernur Riau pada Masanya / Tokoh Masyarakat Riau

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Sejahtera untuk kita semua, dan Salam Takzim bagi seluruh masyarakat Riau yang saya cintai.
Hari ini, kita berdiri di era di mana informasi bergerak begitu cepat, mengaburkan batas antara fakta dan fiksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi ini, ada satu hal yang mencemaskan hati saya sebagai seorang purnawirawan TNI sekaligus orang tua bagi anak-anak Riau: banyak dari generasi muda kita, para pelajar SLTP, SLTA, hingga Mahasiswa, yang belum sepenuhnya memahami sejarah kelam bangsa ini.

Mereka belum sepenuhnya menyadari besarnya harga yang harus dibayar demi tegaknya Pancasila dari rongrongan ideologi komunis. Sejarah bukanlah sekadar deretan angka tahun di dalam buku pelajaran.

Sejarah adalah fondasi, cermin, dan kompas kemana arah bangsa ini akan dibawa. Peristiwa kelam Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965 adalah fakta sejarah tentang pengkhianatan dan kekejaman nyata yang pernah mencabik-cabik tubuh NKRI. Kita tidak boleh membiarkan ingatan kolektif ini luntur ditelan zaman, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.

Bagi kita masyarakat Melayu Riau, merawat ingatan ini memiliki nilai ganda. Kehidupan kita dipagari erat oleh pedoman luhur: “Adat bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah.” Falsafah ini bukan sekadar pemanis kata, melainkan jangkar iman dan perilaku keseharian kita. Ideologi komunis, dengan segala bentuk turunannya, secara fundamental bertentangan dengan jati diri Melayu yang religius dan bertuhan.

Oleh karena itu, membentengi diri dari paham radikal kiri ini adalah bagian dari mengimplementasikan syarak dan adat di Bumi Lancang Kuning. Menyikapi hal tersebut, saya mengetuk hati dan mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat Riau, terkhusus kepada para Pimpinan Kepala Daerah di tingkat Kabupaten dan Kota se-Provinsi Riau, untuk bersama-sama mengambil langkah nyata.

Saya menyarankan agar para Bupati dan Wali Kota berkenan mengeluarkan Surat Edaran (SE) ke seluruh jajaran instansi, sekolah, dan perguruan tinggi. Surat Edaran tersebut berisi imbauan tegas agar pada tanggal 30 September, seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda Melayu, para pelajar, dan mahasiswa, digerakkan untuk menonton bersama film G30S/PKI.

Berikan mereka pemahaman yang utuh mengenai fakta sebenarnya atas kekejaman komunis, agar tumbuh rasa cinta yang kuat pada tanah air dan kewaspadaan nasional sejak dini. Sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam atas gugurnya para Pahlawan Revolusi, saya juga mengajak seluruh masyarakat Riau untuk mengibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang pada tanggal 30 September.

Mari kita tundukkan kepala, mendoakan para syuhada bangsa yang jasadnya dinistakan demi mempertahankan ideologi negara.

Sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam atas gugurnya para Pahlawan Revolusi, saya juga mengajak seluruh masyarakat Riau untuk mengibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang pada tanggal 30 September. Mari kita tundukkan kepala, mendoakan para syuhada bangsa yang jasadnya dinistakan demi mempertahankan ideologi negara.

Kemudian, pada tanggal 1 Oktober, mari kita naikkan kembali bendera menjadi satu tiang penuh. Pengibaran penuh ini adalah lambang kemenangan, sebuah implementasi nyata dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Ini adalah penegasan kepada dunia bahwa Pancasila tetap sakti, kokoh, dan tak tergantikan di atas bumi Indonesia, khususnya di tanah Melayu Riau.

Anak muda Riau yang saya banggakan, Tontonlah sejarahmu, bukan untuk memupuk dendam lama, melainkan untuk memperkuat benteng iman dan nasionalismemu. Jangan biarkan pengorbanan para jenderal dan ulama kita di masa lalu menjadi sia-sia karena kelalaian kita hari ini.

Jagalah negerimu, jagalah adatmu, dan pegang teguh Kitabullah dalam setiap langkah hidupmu.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjaga Riau dan melindungi segenap bangsa Indonesia dari segala bentuk ancaman ideologi yang merusak.

–Membeli keripik di pasar bawah
-Naik sepeda lalu terjatuh
-Billahi taufiq wal hidayah
-Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Editor: Ferizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel riaupark.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution Berjudul “Ular Makan Linggis”
Menjaga Marwah di Tanah Melayu: Edy Natar Nasution Luncurkan Autobiografi “Ular Makan Linggis” Dua Hari Lagi
Bertambah, Polda Riau Kini Tangani 45 Kasus Karhutla, 49 Orang Jadi Tersangka
Sambut HUT ke-24, IPKBI Riau Gagas Aksi Solidaritas Peduli Karhutla di Pekanbaru
Empat Kepala Suku Kubu Terima Watikah dan Gelar Kehormatan dari Sultan Siak Sri Indrapura XIII
Menjaga Api Persatuan, Merawat Warisan Leluhur di Bumi Lancang Kuning
Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir
Kesenjangan Dorongan Internal dalam Mencapai Kinerja
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 01:21 WIB

MENOLAK LUPA SEJARAH KELAM: Menjaga Ideologi Kebangsaan di Bumi Lancang Kuning

Jumat, 25 September 2026 - 01:56 WIB

Menjaga Marwah di Tanah Melayu: Edy Natar Nasution Luncurkan Autobiografi “Ular Makan Linggis” Dua Hari Lagi

Selasa, 8 September 2026 - 03:24 WIB

Bertambah, Polda Riau Kini Tangani 45 Kasus Karhutla, 49 Orang Jadi Tersangka

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 05:42 WIB

Sambut HUT ke-24, IPKBI Riau Gagas Aksi Solidaritas Peduli Karhutla di Pekanbaru

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Empat Kepala Suku Kubu Terima Watikah dan Gelar Kehormatan dari Sultan Siak Sri Indrapura XIII

Berita Terbaru