Menjaga Api Persatuan, Merawat Warisan Leluhur di Bumi Lancang Kuning

- Penulis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah Renungan Hari Ulang Tahun ke-34 Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS), Provinsi Riau

Oleh: Brigjen TNI (Purn), Edy Afrizal Natar Nasution, (Sutan Mangaraja Gompar Parlindungan).

Pekanbaru, 16 Agustus 2026, Tiga puluh empat tahun sudah IKANAS Riau berdiri, mengukuhkan diri sebagai tenda besar tempat berteduh. Berhimpun dan berkontribusinya keturunan Marga Nasution di tanah Riau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, perayaan hari jadi ini bukanlah sekedar seremonial angka-angka biasa. Momentum HUT ke-34 ini adalah sebuah panggilan jiwa untuk memutar kembali memori kolektif kita ke abad ke-14.

Kita diundang untuk merenung kembali sebuah tapak sejarah yang agung dan otentik: Fakta sejarah yang membuktikan bahwa, sebagian keturunan Marga Nasution telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Melayu Riau sejak ratusan tahun yang lalu.

Mari kita bayangkan kembali masa lalu, yang penuh air mata dan peluh itu. Di wilayah Tapanuli, dari tujuh bersaudara anak Si Baroar, (leluhur asal marga Nasution), yang merupakan keturunan langsung dari Boru Namora Suri Andung Jati (Sutan Perempuan), empat diantaranya, yakni anak nomor 1, (Sutan Iskandar), nomor 3 (Sutan Katimbang Di Langit), nomor 4, (Sutan Batara Guru), dan nomor 5, (Sutan di Atas Langit), tetap hidup dan berkembang di tanah asal mereka, Tapanuli.

Namun, takdir sejarah berkata lain, ketika perang saudara berkecamuk di kerajaan Padang Galugur. Ketika ego kekuasaan membutakan mata persaudaraan, Suri Andung Jati tidak memilih untuk membalas dengan pedang. Sang Ratu memilih jalan mengalah demi keselamatan yang lebih besar.

Demi menyelamatkan masa depan keturunannya, beliau memboyong dua anak keturunan Si Baroar menuju ke arah Timur.

Langkah kaki Sang Sutan Perempuan, menembus lebatnya belantara Tapanuli hingga menembus bumi Melayu Lancang Kuning bukanlah bentuk pelarian dari ketakutan, melainkan sebuah jihad cinta seorang ibu demi menyelamatkan peradaban dan darah keturunan marga Nasution agar tidak punah ditelan perang.

Perjalanan suci ini menorehkan fakta sejarah yang abadi sejak tahun 1400-an, dimana ketika itu, anak nomor 2 (Suri Lindung Bulan), telah menjadi permaisuri Raja Tambusai, Tuanku Syah Alam.

Sementara, dua anak kecilnya yaitu, anak nomor 6 (Raja Solut), dan anak nomor 7 (Raja Namora Gompar), di bawa langsung oleh Opungnya (Sutan Perempuan), hingga akhirnya menetap dan menjadi penduduk Kaiti, Rokan Hulu, Riau, hingga saat ini.

Di Kaiti di atas tanah tempat pondasi kehidupan baru, Suri Andung Jati mengakhiri tugas dunianya, sebelum beliau menghilang (moksa) untuk selamanya meninggalkan jejak kaki magisnya di Bagas Rarangan, Suri Andung Jati mengumpulkan Raja Solut, Raja Namora Gompar, serta seluruh pengikut setianya.

Di hadapan keluarga besar yang berkumpul, Sang Sutan Perempuan menitipkan sebuah wasiat abadi yang terus bergema melintasi ruang dan waktu.

Anak cucuku, darah dagingku…. perang telah kita tinggalkan di belakang, dan tanah baru ini telah menyambut kita dengan damai. Esok hari kalian tidak akan lagi melihat rupa kasarku. Namun, ingatlah pesan terakhirku ini,

Pertama: Pelihara dan rawatlah anak-anakmu (Raja Solut dan Raja Namora Gompar), jaga garis keturunan kita agar tumbuh menjadi pohon yang rimbun, yang akhirnya menancap kuat pada adat, dan daunnya menaungi sesama”.

Kedua: Junjung tinggi persatuan dan persaudaraan, jangan pernah biarkan api pertikaian yang menghancurkan rumah kita di Padang Galugur kembali berkobar di tanah rantau ini. Hiduplah dalam kegotongroyongan, se-iya sekata, se-ayun selangkah.

Ketiga: Hormati tempat tanahmu berpijak, bersatulah dengan masyarakat lokal disini, seumpama air dan susu. Rawatlah norma adat dan budaya leluhurmu agar tidak terkikis oleh zaman, tetapi jadilah warga yang setia memakmurkan bumi baru tempatmu mencari kehidupan ini.”

Wasiat luhur itu, kini telah berusia ratusan tahun. Raja Solut dan Raja Namora Gompar, telah tiada, namun darah, semangat dan pesan mereka mengalir deras di dalam nadi setiap pengurus dan anggota IKANAS Riau hingga hari ini.

Kenyataan bahwa keturunan nomor 2, 6 dan 7 dari anak Si Baroar ini telah menyatu dengan bumi Melayu Riau sejak abad ke-14, adalah bukti historis yang kuat: Marga Nasution di Riau bukanlah orang asing. Melainkan saudara kandung se-tanah air yang ikut mendirikan pilar-pilar peradaban di daerah Melayu ini.

Di usia IKANAS Riau yang ke-34, renungan ini mengetuk pintu hati kita masing-masing, “apakah kita sudah menjaga pesan Suri Andung Jati?”

Di tengah era modern yang penuh egoisme dan individualisme, IKANAS Riau harus menjadi penjelma dari impian Sang Ratu. Wadah yang merekatkan yang retak, mengumpulkan yang berserak, dan yang senantiasa mengedepankan semangat persatuan di atas segala perbedaan kepentingan kelompok.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-34 IKANAS Riau,” mari kita jadikan peringatan ini sebagai momentum untuk memperkokoh pohon kekeluargaan Marga Nasution di Bumi Lancang Kuning.

Teruslah melangkah dengan tegak, menjaga warisan adat, menghormati budaya Melayu Riau. Dan merawat api persaudaraan yang telah dinyalakan dengan air mata pengorbanan oleh Sang Leluhur, Boru Namora Suri Andung Jati. Horas !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel riaupark.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir
Kesenjangan Dorongan Internal dalam Mencapai Kinerja
Perkuat Edukasi dan Literasi Keuangan di Riau, Kantor Perwakilan LPS I Gelar Silaturahmi Perdana Bersama Jurnalis
GEMARI Jakarta Apresiasi Kajati Riau, Dugaan Mafia Hutan Eks PT APSL Mulai Disentuh Hukum
DPRD Kota Pekanbaru Gelar Paripurna dengan Agenda Laporan Pelaksanaan Kegiatan Reses Anggota DPRD Kota Pekanbaru Masa Persidangan Ke-II
Anggota DPRD Pekanbaru Abu Bakar Lakukan Sosper PP Pekanbaru No.3 Tahun 2023 Tentang PKS
Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAM Riau Siap Dukung Kenduri Akbar Melayu Nusantara
GEMARI Bongkar Dugaan Skema ‘Kelompok Tani’ di Balik Penguasaan Hutan Eks PT APSL
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:43 WIB

Menjaga Api Persatuan, Merawat Warisan Leluhur di Bumi Lancang Kuning

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:09 WIB

Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:52 WIB

Kesenjangan Dorongan Internal dalam Mencapai Kinerja

Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:37 WIB

Perkuat Edukasi dan Literasi Keuangan di Riau, Kantor Perwakilan LPS I Gelar Silaturahmi Perdana Bersama Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:17 WIB

GEMARI Jakarta Apresiasi Kajati Riau, Dugaan Mafia Hutan Eks PT APSL Mulai Disentuh Hukum

Berita Terbaru