Autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution Berjudul “Ular Makan Linggis”

- Penulis

Senin, 28 September 2026 - 00:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

PEKANBARU – “Ular Makan Linggis” menjadi judul Autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, SIP Di balik judul yang tidak biasa tersebut, tersimpan cerita tentang sebuah julukan ketika Edy masih berdinas di lingkungan militer sekaligus prinsip yang ia pegang dalam menjalankan pengabdian.

Kisah tersebut disampaikan Edy dalam peluncuran dan bedah autobiografinya di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Minggu (27/9/2026). Buku tersebut merekam berbagai fase perjalanan hidupnya sejak menjalankan tugas sebagai prajurit hingga mengemban amanah di pemerintahan dan kehidupan sipil.

Edy menjelaskan julukan “Ular Makan Linggis” yang diberikan oleh juniornya ketika ia masih berdinas di militer. Julukan itu muncul karena sikapnya yang dinilai tegas dalam menerapkan aturan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Edy tidak memaknai julukan tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Baginya, istilah itu menggambarkan prinsip untuk tetap berjalan lurus ketika dihadapkan dengan aturan yang tidak dapat dikompromikan.

“Ular kalau berjalan bisa berbelok-belok, tapi kalau diberi makan linggis yang ada di dalam selimut, dia tidak bisa lagi berbelok dan berjalan lurus, dan itulah makna ‘Ular Makan Linggis’ bagi saya,” jelas Edy.

Menurutnya, prinsip tersebut terus dibawa dalam berbagai fase pengabdian, termasuk ketika menjalankan tugas di lingkungan pemerintahan dan kehidupan politik. Keteguhan terhadap prinsip, kata Edy, menjadi bagian dari cara seseorang menjaga integritas dalam menjalankan tanggung jawab.

Dalam konteks kehidupan di tanah Melayu, ia juga mewarisi prinsip tersebut dengan upaya menjaga marwah. Baginya, marwah Melayu tidak diukur melalui materi, tetapi dijaga melalui sikap dan integritas masyarakatnya.

“Saya ingin menjaga marwah Melayu, dan bagi saya marwah itu tidak bisa diukur dengan rupiah karena tanah Melayu harus dijaga oleh kita sendiri dengan prinsip dan integritas,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel riaupark.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MENOLAK LUPA SEJARAH KELAM: Menjaga Ideologi Kebangsaan di Bumi Lancang Kuning
Menjaga Marwah di Tanah Melayu: Edy Natar Nasution Luncurkan Autobiografi “Ular Makan Linggis” Dua Hari Lagi
Bertambah, Polda Riau Kini Tangani 45 Kasus Karhutla, 49 Orang Jadi Tersangka
Sambut HUT ke-24, IPKBI Riau Gagas Aksi Solidaritas Peduli Karhutla di Pekanbaru
Empat Kepala Suku Kubu Terima Watikah dan Gelar Kehormatan dari Sultan Siak Sri Indrapura XIII
Menjaga Api Persatuan, Merawat Warisan Leluhur di Bumi Lancang Kuning
Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir
Kesenjangan Dorongan Internal dalam Mencapai Kinerja
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 01:21 WIB

MENOLAK LUPA SEJARAH KELAM: Menjaga Ideologi Kebangsaan di Bumi Lancang Kuning

Jumat, 25 September 2026 - 01:56 WIB

Menjaga Marwah di Tanah Melayu: Edy Natar Nasution Luncurkan Autobiografi “Ular Makan Linggis” Dua Hari Lagi

Selasa, 8 September 2026 - 03:24 WIB

Bertambah, Polda Riau Kini Tangani 45 Kasus Karhutla, 49 Orang Jadi Tersangka

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 05:42 WIB

Sambut HUT ke-24, IPKBI Riau Gagas Aksi Solidaritas Peduli Karhutla di Pekanbaru

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Empat Kepala Suku Kubu Terima Watikah dan Gelar Kehormatan dari Sultan Siak Sri Indrapura XIII

Berita Terbaru